RSS

Jumat, 27 Januari 2012

Menghadapi Komentar Mereka : Siswa SMA Tentang Kegiatan Sekolah


Nyatanya untuk saat ini masih banyak para siswa yang membutuhkan jeda waktu di antara tugas dan ulangan sebagai santapan sehari-hari dalam pembelajaran fullday di sekolahnya. Di saat seperti ini,ternyata tak jarang pula adanya siswa yang mencuri waktu untuk refreshing di luar sekolah pada jam sekolah. Bukan kadar kebodohan atau rajinnya seorang anak dalam kegiatan sekolah melainkan kadar penerimaan tekanan tersendiri untuk menerima semua tugas yang ada di sekolah.
Tak jarang pula ada siswa yang sepulang sekolah masih ada jadwal pembelajaran lain selain di sekolah, menurut mereka sebagai tambahan materi yang tidak mereka terima di sekolah.
Sebagai siswa SMA khususnya, masih banyak yang ada di balik suksesnya kejuruan di sekolah. Yaitu pandangan tentang perbedaan siswa kejuruan terhadap sikap yang terbentuk. Tapi cukup sulit juga jika menghadapi komentar para siswa saat menerima jadwal liburan. Di saat adanya jadwal libur sekitar 2 minggu, kabar yang cukup meramaikan jejaring sosial yang mayoritas pemiliknya remaja tersebut. Membosankan, pengen kembali ke sekolah, kumpul temen, dan masih banyak komentar lainnya yang cukup di rasa sedikit berisik. Jujur memang semua pasti merasa sama saat mengalami hal tersebut, lalu jika yang mereka terima adalah jadwal liburan yang hanya 1 minggu, jadwal penambahan pelajar di sekolah, adanya kegiatan sekolah seperti lomba-lomba di sekolah, dan termasuk jadwal ulangan bersama layaknya UH, UTS, UAS.
Apa yang anda dengar saat anda menanyakan pendapat mereka tentang pernyataan tersebut? Sudahkah anda merasa heran dan rasanya ingin mengucapkan “bikin aja sekolah sendiri, jadi kepseknya juga, jadi muridnya di situ dan sekalian yang ngajar juga”. Wajar jika mereka selalu tidak pernah merasa puas dengan apa yang terjadi di sekolahnya. Lalu bagaimana dengan kehidupan mereka di balik semua yang mereka komentari? Menurut mereka pula tiadaklah nyaman, alasannya karena masih ada yang kurang dalam hidupnya. Entah itu masalah tentang percintaan, ekonomi atau bahkan sedikit pembahasan tentang sekolah. Cukup membanggakan saat mereka minimal memenangkan suatu lomba di sekolah yang mereka jadikan hal yang dibandingkan dengan temannya yang lain. Ada-adda saja komentar mereka tentang hidup ini, lalu jika selalu merasa kurang dan tidak ada yang mereka kuatkan dalam arti membuat mereka betah untuk tinggal di dunia ini, apakah mereka akan tetap menjadi seseorang yang di rasa penting oleh orang di sekitarnya? Anda semualah jawabannya.

4 komentar:

  1. luar biasa banged kurikulum Indonesia.. :( cuma ada di Indonesia tuu yg 14-20 mata pelajaran.. belum lagi tambahan ini itu ini itu... padahal di dunia nyata nantinya, hanya satu bidang spesifikasi ajja yg di butuhin.. dunia hanya butuh 1 bidang per anak.. knp mesti diharuskan nelen 14-20 mata pelajaran?!?! ckckckcck.. belum lagi sistemnya yg serba hapalan.. :(

    gag ada anak yg bodoh.. tinggal tugas kitalah (orang tua atau guru) yang seharusnya mampu menemukan dan bernyali buat wujudin apa yg jadi 1 bidang yg dikuasai si anak yg bersangkutan :( ckckckcck...

    Belajar Photoshop

    BalasHapus
  2. semangat buat sekolah de'... hehehehehehehehehhe

    salam kenal yo.

    Nafi @ http://muara-info.blogspot.com/2012/01/ilmu-elektro-itu-simpel.html

    BalasHapus
  3. Itulah Pelajar masbro, apalagi di indonesia itu sudah menjadi kebiasaan hehee

    BalasHapus
  4. nyatanya..,,memang seperti itulah kondisi Indonesia lapisan pelajar..,
    So,,jangan sampai jadwal pelajar itu mempermainkan pelajar tapi sebaliknya..,
    Keep spirit ;)

    BalasHapus

mohon meninggalkan kritik dan saran...^_^