Hawa ketegangan kelas bahkan sekolah saat menghadapi kata “ulangan“, entah UH, UTS, atau UAS. Padahal jika dilihat dari kata utamanya yaitu ulang-an, kata ulang hanyalah seperti kita mengulag pelajaran yang sudah kita dapat. Nyatanya, saat kita mengerjakan soal pun kita tidak dapat jauh-jauh dari buku pendamping tersayang. Kita yang memang tidak mampu memanfaatkan waktu atau memang kita yang tidak menggunakan waktu. Ujung-ujungnya saat pengambilan rapor, sang orang tua menanyakan sebab akibat nilai sederhana yang tertulis sopan di dalamnya.
Kalaupun memang mendapat nilai yang dapat dikatakan cukup, tetap harus ada alasan logis sebagai pertanggungjawaban nilai tersebut. Terkadang menjadi seorang murid memang tidak bisa dikatakan mudah. Di sekolah tertekan atas materi dari guru-guru yang mulai berebut tugas dan ulangan, di rumah sebagai pelajar yang juga ingin merasakan waktu terindah istirahat tanpa gangguan. Itu pun belum saat akhir pekan kita terbuang atas ‘titipan’ tugas dari guru. Pada orang tua tersayang kita pun juga menginginkan kita lebih mendalami materi memalui bimbingan belajar.
Bukan letak siapa salah atau benar, hanya memang semua saja yang dilakukan atas keterpaksaan kita saja. Normal bagi kita, bahkan dalam hal yang sangat kita sukai dalam pembelajaran kita pun merasa lelah dan ingin sejenak membiarkan pikiran kita rehat. Meskipun semua tetap menjadi tanggungjawab seorang siswa, bahkan sampai ada salah satu guru saya yang menyadari bahwa UTS anjlok dan merata pada semua mata pelajaran. Waktu paling rawan adalah mid semester pertama, alasan jitu menerima nilai yang tak ramah lingkungan itu ialah “yah namanya juga masih peralihan pelajaran, jadi masih kaget sama pembelajarannya”. Ini hanyalah fakta umum, belum lagi untuk siswa siswi berprestasi dalam hal pencuekan pembelajaran. STM = sekolah teko mulih, yang dalam bahasa nasional berarti ‘sekolah datang lalu pulang’. Wajar atau tidaknya nilai jeblok itu tergantung kita mengevaluasinya, jika dalam setiap awal materi kita memastikan ‘susah’ maka secara tidak langsung kita mendapat sugesti dalam bahwa kita ‘tidak bisa’ menghadapi materi tersebut. Dengan ini kita harusnya paham akan diri kita, katakan dan pastikan kita ‘mampu’ dan ‘bisa’ menghadapi materi. Semangat dan buktikan bahwa kegagalan adalah kesuksesan kita yang tertunda, namun jika kita tidak segera bangkit maka kegagalan hanyalah kesuksesan yang tidak pernah ada.

Yap,, akan saya buktikan .. hehhehehehe
BalasHapusKeep moving forward .. ^^
lanjutkan mbak.. ;)
BalasHapus