RSS

Minggu, 01 November 2020

Sang Pengajar

Tiba-tiba aku teringat satu kenangan yang ternyata ingin aku lupakan, kenangan memalukan yang bahkan aku tidak mempercayainya bahwa aku bisa mengabaikannya.

Saat itu aku berada pada awal masa pendidikanku, menurutku tidak ada yang salah dariku dan bagaimana aku bersosialisasi. Hingga kalimat yang tidak seharusnya kudengar muncul. Mungkin karena aku bukan tipe orang yang lembut, jadi aku mengabaikannya saja. Seiring berjalannya waktu aku menyadari bahwa masa itu adalah masa paling berpengaruh dalam pembentukan sikapku. Aku jadi semakin keras, acuh, dan hanya berpikir apa yang aku lakukan hanya untuk diriku sendiri dan aku tidak akan melakukan hal yang merugikanku. Egois? Bukan. Aku tidak sejahat itu. Anggap saja aku menghindari kontak sosial yang memuatku lelah.

Hingga aku bertemu sosok baru di lingkungan yang baru. Beliau bukan tipe orang yang akan mendengarkan keluh kesahmu dengan baik dibalik meja itu. Dia akan mengingatmu dalam dua hal, kau baik atau buruk. Tidak ada yang spesial dari beliau menurutku atau menurut mereka. Puncaknya adalah ketika ada namaku terselip di antara para pecandu materi di daftar itu. Kertas putih yang mengantarkan kami ke sebuah kompetisi. Yah kompetisi biasa yang diadakan antar lembaga. Tentu aku kalah, aku masih belum sekecanduan itu pada rumus. Namun setelahnya, ada yang berubah dalam diriku. Bukan hal besar hingga membuatku dikenal banyak orang, tapi cukup mengejutkanku untuk beberapa tahun selanjutnya. Yah, yang kumaksud saat ini. Karena lada saat itu, aku masih belum memahaminya.

Kejadian-kejadian yang menimpaku, yang terjadi padaku, yang entah bagaimana aku tidak memahaminya. Kukira aku hanyalah warisan ayah ibuku, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi aku cukup keras mengakui perbedaan antara aku dan saudaraku. Bukankah tiap individu memang diciptakan berbeda, kalimat itu sudah menjadi prinsip untuk melindungi diriku dari ocehan orang sebelah.

Kini, aku menjadi salah satu dari mereka. Mereka yang membentuk perilaku dan sikapku, bukan hanya IQ dan EQ ku. Aku sendiri juga heran bagaimana bisa aku ikut campur masuk di lingkungan ini. Bahkan aku merasa bahwa hal yang lebih baik adalah ketika anak-anak mengalami pendewasaan sendiri, bukan dari perintah dan aturan. Apakah itu contoh yang tidak baik? Entah. Kemudian, aku mulai menyadarinya. Hal-hal yang terlewat dariku, yang aku abaikan mungkin sangat berpengaruh padaku sekarang. Hingga memoriku memutar kembali apa yang aku alami ketika masih berseragam itu. Dari apa yang seharusnya aku dapat hingga apa yang tidak sepantasnya ku terima dari mereka.

Aku hanya ingin menyampaikan, apapun yang dilakukan oleh seorang murid, kumohon jangan menghakiminya. Tidak akan ada yang tahu menjadi seperti apa mereka kelak, bahkan dirinya sendiri. Jika ada yang mengatainya aneh, bisa jadi dia akan benar merasa bahwa dirinya aneh. Namun itu akan berbeda jika kamu mempercayai ada yang spesial darinya. Dia bisa saja menjadi orang yang paling terbuka, menghargai kehadiran orang lain, dan menjadi pendengar yang baik mungkin. Aku harap tidak ada lagi jaman pengajaran yang kuno, yang harus menyudutkan kesalahan murid hanya karena tidak sama dengan murid lainnya. Semakin lama para pengajar semakin cerdas, tentu saja. Tetapi yang cerdas bukan hanya para pengajar saja.

ps. Terimakasih kepada para pengajarku.
Jika tidak ada yang menyebutku aneh di depan kelas maka aku akan menjadi sosok yang lemah dan rapuh.
Dan jika tidak ada kesempatan ikut serta kompetisi itu, mungkin aku juga tidak tahu bagaimana rasanya dipercaya dan diberi tanggungjawab.
Sekali lagi, terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon meninggalkan kritik dan saran...^_^