RSS

Jumat, 13 Mei 2011

Rahasia Dibalik Fakta

Bunyi klakson pun berirama dijalanan, berselimut asap motor dan hiruk pikuk ramai kota. Uh, macet lagi. Seorang siswi yang menikmati padatnya kota Surabaya, menunggu berakhirnya lampu merah. Terdengar petikan suara gitar dari balik kaca mobil, gadis yang ada di dalam mobil menoleh. Seorang anak laki-laki belum dewasa dan nenek tua menyanyikan lagu salah satu artis dari ibukota.
Belum lama bernyanyi, kaca mobil terbuka setengah. Terlihat tangan keluar dengan uang pecahan seratus ribuan. Lampu merah pun berganti hijau. Semua kendaraan saling berebut jalan. Si pengamen masih tidak percaya bahwa dia mendapatkan rezeki dipagi itu sembari mengucap syukur dan terimakasih kepada Sang Pencipta dan gadis tadi.
“Non, maaf ya tadi saya lewat jalan yang disana. Saya nggak tau kalau disana macet. Ya mau gimana lagi non, namanya aja kota besar. Jarang banget ada jalan non macet.” Jelas si sopir dengan sesekali melihat bayangan majikannya di kaca spion depan bercerita panjang lebar.
“Nggak apa – apa kok pak.” Jawab singkat si gadis pada sopirnya.
Sampai di tikungan jalan, terlihat seorang anak laki – laki yang berusia & berpakaian seragam yang sama dengannya. Anak laki – laki itu diantara kumpulan orang laki – laki yang umurnya lebih tua ketimbang dia. Mobil sedan silver melintas, menjadi sasaran hadangan dari krumunan orang laki – laki sangar itu. Kali ini yang mendatangi mobil itu adalah 3 remaja laki – laki, salah satunya remaja berseragam itu.
“Hei,buka buka mobilnya.” Remaja berseragam itu mengetuk kaca mobil dengan berbicara setengah berteriak.
Kaca mobil terbuka, terlihat seorang gadis didalam mobil tanpa melihatnya. Dua remaja lain mengawasi dari belakang yang berjarak sekitar lima kaki dari mobil. Mengetahui gadis didalam memakai seragam yang sama dengannya, laki – laki berseragam itu diam sejenak memperhatikan gadis didepannya dan berpikir.
“Kamu.....” “Kalau emang niat berangkat, langsung masuk aja.” Kalimat remaja laki – laki berseragam itu terpotong ucapan singkat gadis tersebut.
Remaja laki – laki itu berbalik, mengatakan sesuatu pada dua temannya yang sedari tadi mengawasinnya. Terlihat raut kecewa dari mereka dan kembali ke kumpulan orang – orang sangar itu. Remaja laki – laki berseragam masuk lewat pintu belakang. Dia duduk di sebelah gadis itu yang dari tadi hanya memperhatikan keadaan luar dari keluar jendela tanpa melihatnya. Setelah cukup lama hening saling diam di mobil, remaja laki – laki itu membuka pembicaraan
“Makasih ya, aku udah dibolehin nebeng. Oh ya, nama aku Erza. Senang bisa kenal kalian. Emm.....nama kamu siapa ya? Kita satu sekolah tapi kok kayaknya aku nggak pernah liat kamu.” Ujar laki – laki berseragam menoleh kea rah gadis tersebut.
“Nama gadis manis yang duduk disebelah sampeyan itu Virza, dia dara Mojang. Non Virza ini majikan saya mas, kesini karena ibunyaada pindah tugas ke Surabaya. Kalau saya memang asli orang sini, nama saya Dewa tapi karena saya orang kampung jadinya Dewo.” Penjelasan yang menggelikan ditelinga Virza dan Erza. “Ah,ada ada aja bapak ini” Tawa Erza pun mengelik. Si gadis, Virza hanya tersenyum tipis mendengar mereka saling berhumor ria.
Sampaidi gerbang sekolah, Erza berlari memasuki koridor – koridor sekolah. Mobil sedan silver pun meninggalkan Virza di depan sekolah dan menyusul Erza memasuki koridor sekolah. ‘siang yang ramai,hmm…..’ gumam Virza melihat belasan murid satu sekolahnya diluar gerban saat jam pelajaran telah dimulai tujuh menit yang lalu.
Di sebuah kelas yang bersebelahan dengan ruang musik. Terdengar ramai dari luar kelassuara gaduh murid akibat belum ada guru yang mengisi kelas itu.
“Selamat pagi anak-anak!” seru seorang wanita paruh baya memasuki kelas menuju meja guru.
“Maaf saya telat karena tadi ada sedikit urusan. Baiklah anak-anak hari ini kita mendapat teman baru dari Bandung. Ibu harap kalian bias berteman baik dengannya. Baik, mari nak silakan masuk.” Lanjut  Bu Dani seraya mengajak seseorang dari luar kelas untuk masuk.
Gadis itu masuk, dan mulai memperkenalkan diri. “Nama saya Virza Arsyaditha. Kalian bisa memanggil saya Virza. Terima kasih…” guru mempersilahkan duduk di bangku nomer dua dari depan. Tanpa sadar,seseorang yang duduk disebelahnya  terasa taka sing. ”Kamu…” Erza menyapa,senyum tipis Virza yang manis menjawab sapaannya.
Hari semakin hari,semakin dekat hubungan mereka, Erza yang ramai, penuh tawa, sedangkan Virza yang cuek dan serius. Banyak yang bilang kalau mereka nggak cocok jadi sahabat atau kalau memang bersahabat hubungan mereka nggak akan lama. Namun,mereka selalu bisa saling mengisi. Misalkan saja pada saat ada tugas computer dimana teman yang lainnya membawa laptop mereka, saling bertukar file atau game dan banyak lagi. Erza hanya melihat dari tempat duduknya, saat dia memutar kepalanya kedepan dia melihat ada sebuah Ipad dihadapannya. Dia menoleh ke arah Virza yang hanya senyum-senyum mengetahui keheranan Erza. Virza yang sibuk dengan laptopnya juga menuliskan sesuatu yang diperlihatkan ke Erza. Tertulis…
“Di rumah nggak ada yang pake, ketimbang nganggur lagian aku juga nggak sabaran banget pake gituan. Jadi yah,… setidaknya barang itu berfungsi di kamu.”
Tatapan Erza pun beralih ke Virza. Sejenak berdiam yang disusul tawa mereka, kemudian mereka berdiam lagi,hanya sekedar saling senyum. Tertulis ketikan Erza di Ipad pada Virza “Makasih sayang…” Erza merayu sang sahabat barunya.
­­­­­_____..._____
Erza dihubungi neneknya, meminta dia untuk segera berkunjung ke Bandung. Neneknya mngaku rindu pada cucunya itu. Erza pun tak bisa menolak,mau tak mau dia harus mau,karena dia juga merindukan neneknya yang sangat berjuang memperbaiki kehidupannya. Disaat ibunya yang meninggal tiga tahun yang lalu yang tak lama kemudian disusul kabar buruk ari perusahaan kebanggaan ibunya yang bangkrut dan ayahnya yang pergi meninggalkan rumah entah kemana membuat batin Erza down  dan depresi hingga membutuhkan perhatian lebih,atas permintaan sang nenek juga lah yang menemaninya terapi. Hingga harus meninggalkan 1 thn pelajaran di sekolahnya.
Sampailah Erza di stasiun,maklum sebagai anak kos-kosan yang harus hidup mandiri dan berhemat.Sesampainya di rumah megah milik neneknya, dia disambut hangat oleh penghuni rumah. Erza bermalam dirumah neneknya itu, keesokan harinya barulah acara pertemuan keluarga dimulai. Kakak dan adik bahkan saudara satu darah dengan ibu Erza pun dating. Disana ternyata datang juga adik bungsu dari sang ibu, dia pun memperkenalkan anaknya kepada Erza. Ternyata anak tersebut tak lain adalah Virza.
Akhirnya mereka pun semakin dekat, saling support dalam setiap masalah termasuk masa lalu Erza yang jatuh hingga menyebabkan dia harus hidup sendiri di kota yang keras.
Minggu-minggu sebelum tahun ajaran berakhir diumumkan berita yang mendebarkan. Pengumuman hasil prestasi murid yang berhak mendapat kesempatan untuk lompat kelas. Kesempatan itu didapat Erza dan Virza. Erza semangat dengan semangat dan bahagia menerima kesempatan itu, lain halnya dengan Virza. Dia lebih memilih mengikuti pelajaran di sekolah sesuai dengan umurnya. Erza sedikit kecewa dengan keputusan Virza, namun Virza percaya dengan ikutnya Erza akan memperbaiki masa lalunya. “Buktikan sama nenek, buat bunda kamu juga ya…”
Dengan berat hati, Erza harus berpisah dengan saudara sekaligus sepupunya itu. Namun, tak ada pilihan lagi. Tahun ajaran baru dimulai, Virza rela kehilangan kesempatan loncat kelas dan harus menempati bangku kelas 12 di sekolahnya. Sedangkan Erza kini mengisi bangku kuliah di salah satu Universitas ibukota. Hingga tak terasa telah lima tahun tak bertemu dan tak tahu kabar.
_____..._____

Seorang gadis manis memasuki kantor direktur utama di salah satu perusahaan besar di Bandung. “Selamat pagi pak,saya senga bisa bekerja sama dengan perusahaan anda ini. Saya harap kita bisa saling bekerja sama…” seraya meletakkan map berisi data-data penting perusahaan.”Saya harap demikian dan saya akan berusaha memberikan dampak positif pada perusahaan kita.” Sang direktur yang sedari tadi duduk membelakangi gadis itu yang juga menjabat sebagai direktu utama di perusahaannya. Dia memutar kursinya dan berdiri, kaget mengetahui seseorang yang kini dihadapannya.Virza,ternyata mereka benar-benar sukses,janji mereka bertemu lagi demi masa dimana menjadi berbeda dari sebelumnya dalam hal yang lebih baik…”1 kata untuk pertemuan setelah perpisahan, SUKSES”



4 komentar:

  1. semoga kita semua jadi orang sukses seperti mereka.. amiiin,,

    BalasHapus
  2. wah ada bagian yang ngekos-ngekos jadi pingn ndang ngekos alias ndang kuliah dan hidup mandiri menembus dunia kerja.. Salam sukses.. :)

    BalasHapus
  3. @mas anas: izo mas,ok ok...semua juga berharap sukses...

    @mas aqmal: hohoho,semangat terus mas...

    BalasHapus
  4. Bagus ceritanya, hehe

    Liat cerpenku juga ya, kunjungan baliknya ditunggu :))

    BalasHapus

mohon meninggalkan kritik dan saran...^_^